Industri Kapal Pesiar – Saat Lebaran menjadi salah satu ditunggu-tunggu bagi umat Muslim di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pada hari itu, sering dijadikan momentum untuk silaturahmi, sekaligus berlibur.

Sebagai Negara Kepulauan, Indonesia Bisa Untung Besar dari Industri Kapal Pesiar
Sebagai Negara Kepulauan, Indonesia Bisa Untung Besar dari Industri Kapal Pesiar (Sumber: viva.co.id)

Melihat hal tersebut, program pertama Lebaran Sailing untuk warga Indonesia diluncurkan Royal Caribbean International.

“Seperti diketahui, liburan paling lama orang Indonesia merupakan saat Lebaran. Jika jauh-jauh mungkin biaya tiket mahal”, menurut Andi S. saat diwawancarai kami dalam acara media briefing Royal Caribbean International di Grand Indonesia Jakarta.

Ia pun mengatakan, kegiatan yang menggunakan kapal Symphony of The Seas ini bermuatan empat ribu dua ratus orang. Kapal pesiar itu bakal mengajak masyarakat Indonesia berlayar ke sejumlah destinasi favorit di area Asia Tenggara.

“Kita bakal ke Penang (Malaysia), yang memang tidak miskin bakal wisata kuliner, kemudian ke Phuket (Thailand), yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit warga Indonesia, selain Bangkok di Thailand,” ucapnya.

Ia pun menambahkan, masyarakat bakal dibawa berkeliling dari pelabuhan Singapura menuju Penang, kemudian Bangkok selama 5 hari 4 malam. Mulai dari tanggal lima belas sampai 19 Juni 2018.

“Mereka nanti punya pilihan apa kembali langsung, atau bakal melanjutkan tur setelahnya. Dan, harganya kompetitif mulai Rp8 juta (belum tiket pesawat ke Singapura),” katanya.

Lebih lanjut, ia memaparkan, harga yang ditawarkan tersebut sudah termasuk harga untuk menikmati beberapa fasilitas hiburan yang tersedia. Di kapal bakal ada pertunjukan animasi karya DreamWorks, seperti Kung Fu Panda, Shrek, Madagascar. Nantinya, anak-anak akan mampu berfoto bareng dengan mereka secara free.

Ada pertunjukan parade, menikmati sarapan, makan siang dan malam di seluruh restoran yang tersedia di bahtera itu secara gratis.

“Kalau untuk entertainment sekarang, kita sedang mencoba mencari entertainment yang pas dengan warga Indonesia. Sebelum keberangkatan, akan diumumkan sebulan Siapa artis, atau bintang tamu yang akan kita undang pada bulan Maret,” ungkapnya.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia diyakini bisa menangguk pemasukan yang gede dari sektor wisata maritim. Tetapi, ada sejumlah hal yang perlu dibenahi, salah satunya kapasitas pelabuhan.

Menariknya, optimisme tersebut dilontarkan oleh negara tetangga, Singapura. Sebagai negara yang tengah mengembangkan industri jasa wisata kapal pesiar skala tidak kecil, Singapura yakin sektor ini punya prospek cerah. Apalagi dari tahun ke tahun, makin tidak sedikit turis yang menggunakan perahu pesiar untuk berlibur.

“Wisata dengan perahu pesiar ini membawa keuntungan ekonomi yang signifikan bagi negara-negara Asia Tenggara, tergolong Indonesia,” kata Annie Chang, Direktur Jasa Bahtera Pesiar dari Grup Kebijakan dan Perencanaan Tubuh Pariwisata Singapura (STB) dalam diskusi dengan delegasi jurnalis dari Indonesia beberapa saat kemudian.

STB pun telah punya deretan angka yang menunjukkan bahwa bisnis jasa perahu pesiar bisa membawa imbas ekonomi bagi Indonesia.

“Bagi Indonesia, berdasarkan data pada 2014, wisata kapal pesiar telah menghasilkan Direct Expenditure sebesar US$ 37 juta, output-nya sebesar US$ 78 juta. Sedikitnya enam belas dipekerjakan selain itu.

Di kapal pesiar Royal Caribbean yang berbasis di Singapura, telah delapan ribu WNI yang bekerja di sana. Selain tersebut, mulai tahun 2017-2018, sedikitnya 1.000 WNI setiap tahun bakal menjalani pelatihan di perahu tersebut atas hasil kolaborasi Oceanic Group dan Politeknik Pariwisata Batam

Di beberapa wilayah Indonesia harapannya sanggup juga memiliki saran dan prasanan sailing ini. Tak terlepas Yogyakarta yang merupakan daerah tujuan wisata. Harapan ini juga sangat amat dinanti masyakarat Jogja, terutama untuk meningkatkan kunjungan wisata di Jogja.

“Kami yakin, jumlah warga Indonesia yang bekerja di sektor kapal pesiar ini bakal lebih banyak lagi,” lanjut Chang.

Selain tersebut, keuntungan secara kualitatif bagi negara yang disinggahinya didatangkan wisata bahtera pesiar skala tidak kecil – yang membawa ribuan penumpang – juga. Merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan obyek wisata pada komunitas-komunitas lokal.

“Otomatis, ini juga akan membuka lapangan kerja baru di tempat-tempat yang disinggahi kapal pesiar. Pada akhirnya juga bakal menarik investasi, pembangunan, dan kolaborasi lokal di tempat-tempat tersebut,” kata Chang.

Maka Singapura berharap Indonesia bisa kian serius menggarap serta memperbarui sarana maupun prasarana pendukung. Contohnya, meningkatkan kapasitas pelabuhan-pelabuhan dekat tempat wisata favorit sehingga bisa disinggahi bahtera pesiar skala tidak kecil.

“Kami berharap pelabuhan-pelabuhan seperti di Semarang, Bali, dan Lombok bisa segera ditingkatkan sarana dan prasarananya. Tiga tempat itu menjadi tujuan favorit para penumpang kami saat ini,” kata Chin Ying Duan, Manajer Komunikasi Korporat Perahu Pesiar Royal Caribean International.